Aku Kembali, Masih Aku yang Sama, Dengan Banyak Hal yang Beda

 

Dua tahun ini aku terlalu sibuk merasa gagal. Aku mengakui kalau aku telah gagal, hal yang wajar dalam hidup, tumbuh, dan berkembang. Menulis seperti ini rasanya terlalu klise. Rasanya seperti mengada-ngada alasan untuk menghibur diri soal mengapa aku tidak berhasil. Mengapa mimpiku yang dulu terasa matang terencana, terasa mewah dan menggairahkan, kini terkubur dan tertunda. Namun begitulah adanya. Gagal adalah bagian dari hidup.

Aku mengakui juga kalau selama ini aku tidak konsiten dan tidak berani mengambil resiko, berantakan dalam menempatkan priotritas dan terlalu cari aman. Itu menjadi faktor besar mengapa aku tak ada di tempat yang aku awalnya tuju. Namun di balik itu, aku mempertanyakan lagi, jangan-jangan bukan itu yang sebenarnya aku mau? Hidupku mengalami rollercoaster ekstrem yang di luar kemampuanku. Setelah diingat-ingat, yang aku mau memang naik rollercoaster. 

Kini aku terdampar di suatu pulau antah berantah. Tak pernah ada di rencanaku karena aku tak tahu ada pulau itu di dunia. Menariknya, aku menikmati hari-hariku di sini. Life gets better, surprisingly.

Sebenarnya aku tak perlu membagikan terlalu banyak, tetapi kini rollercoaster ku diperlambat dulu. Jadi odong-odong keliling komplek dulu. Kini aku bisa jawab pertanyaan orang-orang tanpa harus tahan nafas, soal siapa aku dan apa yang sedang lakukan, karena kali ini tak akan berubah terlalu cepat. Bisa aku jelaskan pelan-pelan, toh tak semua harus mengerti. 

Setelah dua tahun aku luntang-lanting, akhirnya aku settle. Berkat beberapa hal yang terjadi dan proses penerimaan hidup yang radikal, aku merasa punya nilai lagi. Berkat semua itu, aku sadar kalau nilai bukan soal pencapaian besar saja. Setelah selama ini feeling like i don't belong, i realized, maybe no one actually belongs anywhere and everything are just choices and decision makings. Aku merasa kembali layak mengambil kembali personality cheerfulku tanpa merasa tak pantas atau impostor syndrome. 

Rasanya seperti punya banyak ruang seperti dulu lagi, padahal kesibukanku cukup banyak bertambah. Tak ada yang sesuai rencana, tapi kepingannya hampir menutup banyak yang hilang. 

Seperti kata bio ku yang baru, aku adalah seorang storyteller, yang menggambar medical anatomy sebagai side hustle. Rangkuman dari yang aku lakukan saat ini, yang kali ini aku janji pada diri sendiri, akan selesaikan sampai akhir; Bachelor jurusan Health Science, Ausbildung jurusan perawat di psikiatri, dan di waktu yang bersamaan tetap nyeni dengan menjadi gasthörer di kampus seni kota ku, menjadi ilustrator di organisasi politik komunal provinsiku di Jerman, tetap menulis dan impulsif beli buku tiap gajian biar kamarku jadi perpus.

Nggak, hidup nggak akan gini-gini aja. Slow living bukan berarti berhenti di tempat. Aku juga belum puas terhadap apa yang aku capai, lebih tepatnya, terhadap manfaat aku sebagai manusia. Masih banyak yang harus aku perbaiki. My alhadulillah mindset nggak cukup. Kadang ada aja astaghfirullahnya yang bikin guling-guling. Kadang harus bilang juga, hidup nggak- "nggak apa-apa," alias banyak hal yang terjadi dan nggak bisa diam aja. Namun langkahnya nggak perlu langsung besar. Atomic. Dikit-dikit jadi bukit. 

 

Comments

Popular Posts