Mengabadikan Cinta, Part 2 - Sialan, Jakarta
“Tuh kan gara-gara ini. Umi udah nebak, karena kakak waktu itu kayak gini juga waktu lost contact sama Erul.” Tidak ada arah romantik dari ceritaku— or at least that was what i believed…
“Nggak, kakak sahabatan doang sama Erul, tapi Erul itu orang terdekat dan paling nyambung sama kakak—“ ucapanku dipotong oleh Umi.
“Nah, dari semua orang yang pernah kakak ceritain, pasti akhirnya nggak jadi karena alasannya ‘nggak nyambung,’ berarti selama ini secara nggak langsung kakak ngebandinginnya lagi ke Erul,” deg. Shit…waduh?
Terakhir berpisah, aku memberi Erul kultum dadakan soal betapa menyebalkannya dia, bukan hanya padaku, tetapi dua temanku lainnya yang aku sangat pedulikan. Saat itu aku benar-benar kesal dan marah. Meski kecewa, ada perasaan bersalah telah mengucapkan semua itu tanpa sempat mengucapkan sisi lainnya. Karena itu, beberapa hari kemudian aku mengajaknya bertemu. Lebih tepatnya memaksanya bertemu, di Jakarta.
—-
Kamu bilang kalau cinta itu seperti kanker, bukan virus yang bisa menjadi kebal. Jakarta bisa membuat kita kambuh, tetapi aku pura-pura punya penawarnya. Sejak kamu menyetujui tanggal bertemu, setelah aku mengirim proposal izin pada kakakmu, aku lebih banyak tersenyum di rumah, begitu terus sampai saat aku menaiki krl menuju Gondangdia. Aku yang memakai outfit agak hippie, berwarna terang, sumringah kesemsem, menatap jendela gerbong seperti Prabowo menatap kebun Sawit, terlihat sangat mencolok di antara menumpang pulang kerja yang baru kehujanan.
Sesungguhnya, aku mau bertemu untuk berpisah.
Baju pink babi dan gerak-gerik kikukmu terlihat dari kejauhan. Sebagai city-walk-lovers kita berjalan ke tujuan pertama yaitu toko kamera digital retro, karena alibi bertemu kali ini adalah untuk hunting foto dengan kamera jadul di ibu kota. Setelah mengantarku bertemu sahabat lamaku, kita berjalan ke kota tua, lalu mengobrol ngalor ngidul di TJ menuju blok M yang sudah tutup. Untungnya Gramedia Jalma masih buka dan kamu bisa numpang buang hajat, walaupun sayangnya tidak sempat mengantri puisi on the spot. Ditutup gultik yang terlalu sedikit, malam yang terlalu singkat, dan kalimat-kalimat yang masih tercegat.
Pagi-pagi melewati sungai ikan sapu-sapu dan berselfi di skydeck bunderan HI. Ah, klise macam turis saja, padahal kita langganan menjadi korban Jakarta sebelum Sunset, dan sekarang sebelum Pagi. Amunisi kali itu adalah ketoprak kupat tahu telor pinggir Gondangdia. Mantap. Agar semakin jauh dari bumi dan dekat dengan mimpi, kita mampir dulu di Cikini. Beli bunga yang kita pilih sendiri. Sayangnya, tidak terlalu banyak pilihan spesifik yang bisa diterjemahkan pada buket yang aku berikan padamu; aku menyayangimu sedikit lebih dengan mawar merah di antara kuning dan harapan lainnya.
Aku berpelukan dengan Maria, sebelum memasuki halte. Saat aku berbalik ke arah Erul, ia tidak mengikutiku dan ia tidak mengucapkan kata perpisahan sepatah pun. Aku yang buru-buru hanya melambaikan tangan, menyembunyikan rasa jleb jleb jleb tulang ikan mas menusuk di pori-pori, karena berpisah dengan Maria, PUN Erul yang membuatku tak habis pikir. Setelah sejak kemarin menghabiskan waktu bersama, tak ada satu patah kata pun perpisahan? Oleng, kepalaku sakit, mual, aku duduk di TJ sambil menangis bombay.
Siap-siap untuk memblokir nomornya, tiba-tiba pesan dari Erul muncul. Katanya, ia mau menyusulku untuk perpisahan. Sialan, aku tidak jadi memblokirnya. Alih-alih, aku menunggunya di stasiun Cawang dengan dua gelas matcha. Aku melihatnya mendekat, entah apa yang aku rasakan. Selalu begitu, keinginanku untuk menonjoknya sampai ada suara DEG netflix selalu lenyap saat melihat wujud tengilnya. Akhirnya, kami berjalan menuju stasiun Cikoko untuk berpisah.
“Kamu itu virus, tapi kamu juga antivirusnya,” ucapku.
Sesungguhnya, aku mau bertemu untuk berpisah.
Hal-hal yang ingin aku ucapkan tidak sempat ku ucapkan. Bahkan setelah aku sengaja melewatkan dua jadwal LRT untuk berdiam di bawah kipas angin bersebelahan dengan manusia menyebalkan yang sama-sama setuju untuk membisu. Kami hanya tatap-tatapan seperti orang kebelet buang air, tak peduli penjaga stasiun yang mungkin sudah merinding melihat kami berdua seperti di sinetron.
“Semoga kita bisa ketemu lagi,” adalah kalimat yang akhirnya keluar dari mulut Erul. Sisanya, dia bilang kalau itu obvious dibaca dari matanya; hal-hal yang aku ungkapkan lewat telefon setelah kembali berjarak samudera dan lima jam zona waktu. "Aku memiliki kesimpulan, kalau ini adalah Cinta."
Pertemuan kali ini ditutup dengan aku yang berputar balik sebelum satu langkah lagi memasuki pintu stasiun. Masih tergambar kamu yang merentangkan tanganmu dan aku memelukmu selama tiga detik. I wished i can hold your hands the whole time, dan saat aku mengatakan itu di telepon, kamu bilang itu juga yang ada di benakmu.
Dua tahun lalu saat kamu mengungkapkannya dan mengakui jatuh cinta, kita setuju kalau itu hanyalah kutukan. Namun kali ini, aku telah melalui fase denial dan mencoba mengartikan seluruh ungkapan; cinta, crush, limerence, obsession, dan tidak ada yang lebih tepat dari kata Sayang. Namun sayangnya, itu tidak cukup. Meski sinaran ultrafeng mulai dinaungi oleh greenday dan aku terjun dari helikopter untuk kamu sayang, jalan kita satu ke Kutub Utara satu ke Segitiga Bermuda.
Yaah balik lagi aje ya muter-muter. Setelah menangis tujuh purnama atas cinta yang baru aku akui setelah tiga tahun tumbuh mengakar, aku harus mencangkulnya dengan paksa. Sayang kita segini-gini aja macam puisiku yang relevan selamanya. Meski kamu aneh dan menyebalkan, rawan diculik Prab— dan diikutin tukang bakso bersepatu PDL, i actually believe you’re a good person. Sebagai seseorang yang mengenal gradasimu, aku sangat percaya tokohmu layak mendapat jalur untuk character development, mendukung potensimu yang aku sangat kagumi. Meski suatu saat kita jauh, pieces of you is already part of me, and you‘re never entirely gone.
Surat cinta terakhir,
karena setelah aku memberikan setumpuk surat yang ditulis sejak 2023 itu padamu, kertas yang aku siapkan selalu berakhir kosong. Tidak ada lagi kata yang tersisa. Lega rasanya aku bisa mendoakanmu sebagaimana adanya. Terima kasih telah membaca surat-suratku dan menyimpannya padahal itu di luar kapasitasmu. Kalau saja kamu mencoba mengerti point of view bundel puisiku, kamu mungkin akan sedikitnya tahu sedalam apa aku mencoba memahamimu, yang saat menulisnya mencoba melepaskan egoku dan menyelamimu dalam kepalaku.
It‘s not my first time falling in love, but it is my first time being in love this deep. Where i care deeply of you and things you care about, and your pain feels like mine. Where i feel like i can and want to connect with the world of yours, your sisters, and your cat. Where we somehow trust each other‘s eyes while being very different. Where we simply be us and be there. You also sounds like my favorite songs, and feels like my childhood bedtime stories.
Dan, Selesai. - Nadin Amizah
Setelah proses netralisasi dengan mengalihkan fokus pada kehidupan asyik lainnya, bertemu ratusan orang dalam satu bulan yang membuatku pontang-panting, menjadi gym bro dan memanjat dinding boulder seperti cicak kepanasan, art club dan surprisingly dapet kesempatan bertemu ilustrator terkenal, menjadi metal bersama Sofia Isella, joged hipdut di saat luang, menyambut album Mba Olip dan beli tiket konser Paris Paloma, hiking tiap minggu dan menyelesaikan banyak buku, diskusi online dan merencanakan backpack keliling Eropa dengan teman baru, akhirnya aku bisa menyambut Erul kembali dengan damai.
Lebih dari itu, aku bisa berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan "why am i always too much or too less, and never enough?"
Senang bisa kembali seperti semula, kawan. Looking forward to gelut-gelut lainnya, in any kind of ways, i will always wish you the best.
—
Ps. Idk if i can or want to fall in love again for this kind. This is also the first kind of love that made me give up on being romantic. It hurts so much i will just accept i am not made for romantic and just here for the love of humankind— and get a cat. Thanks.
Love, Kafa









Comments
Post a Comment