#39 - Mengumpulkan Harapan Hidup Sambil Nonton Berlin Marathon

Sejak aku membaca buku 'what i think about when i think about running' Murakami di jaman pandemi, aku mulai tertarik dengan para pelari. Yup, hanya dengan topiknya tanpa angkat pantat dan pakai sepatu. Baru satu tahun kemarin aku tergerak untuk mencoba memulai, berkat bantuan Erul yang awalnya berfungsi sebagai coach galak dan strava yang aku gunakan juga untuk curhat di activity descriptions. Walaupun masih payah dan belum konsisten, setidaknya aku bisa merasakan efeknya saat mengejar bis. Setidaknya aku yang dulu couch potato akut sudah tamat couch to 5k plan walaupun mentok di situ aja. 

Sekilas tentang apa kata Murakami di bukunya, ia menuliskan soal keterkaitan kegiatan berlari dengan pekerjaannya sebagai penulis. Menurutnya, kekonsistenan dalam berlari mirip dengan menyelesaikan tulisan, sama-sama ditempa penderitaan di tengah jalan, tetapi ada saat seperti Runner's high saat inspirasi mengalir seperti banjir bandang. Ia menjelaskan soal triathlon yang menyelingi berbagai bentuk latihan fisik mirip variasi latihan menulis dan pengembangan proses kreatif. Berhubung menulis adalah kegiatan paling memuaskan dalam daftar hobiku, itu kenapa aku semakin penasaran dengan kegiatan berlari. 

Bulan Maret lalu, aku bertemu seseorang yang gemar berlari di half marathon. Itu event lari kedua yang aku tonton selama hidupku. Orang-orang yang sampai di garis finish pasti mendapat medali tanpa harus mengalahkan siapapun kecuali menantang kemampuan maksimal diri sendiri. Akhir tahun kemarin juga aku mengikuti acara toastmaster yang salah satu pembicaranya bilang, ia bahkan tak bisa lari 20 langkah, tetapi akhirnya bisa half marathon. "Hm, mungkin ini tidak terlalu impossible..." pikirku. Namun aku pun memutuskan untuk mulai perjalanan lariku dari sebelum garis Start; menulis. Akhirnya, sebuah novela bernuansa surealis aku tulis di Bulan April. Itu juga yang membawaku ke Berlin Marathon Minggu kemarin walaupun hanya sebagai tim hore, pengamat, dan pengagum.

Tiket kereta ke Berlin dengan jarak sekitar 400km jauhnya aku beli secara impulsif. Perjalanan yang sangat aku nikmati karena ini pertama kali juga aku mengunjungi kota itu. Di hari-H BMW Marathon, jalanan penuh manusia yang datang dengan lonceng, terompet, bahkan kostum jin teko. Sepertinya senyumku terlalu lebar sepanjang acara, menikmati tarian para pendukung goyang kanan-kiri walaupun tidak bakat jadi cheerleaders, membaca semua tulisan random di papan besar, dan rela berdesakan untuk mendapat spot bagus untuk berteriak pada para pelari.  

Aku bergabung dengan para penonton heboh dan ikut sukarela berteriak full volume ke arah semua orang terutama orang Indonesia yang melewatiku di 500 meter sebelum garis finish. Kebetulan, setiap kilometernya ada saja orang Indonesia, termasuk para artis yang ditunggu-tunggu, walaupun aku tidak kenal banyak kecuali Raffi Ahmad dan Nirina Zubir. 

Salah satu pelari dengan kaos bertuliskan "I never finish anything," menjadi sorotanku. Aku otomatis berteriak, "OMG, PAK, SAME!" Mencoba menyelesaikan sesuatu pun salah satu alasanku berlari. Namun bapak itu berlari menuju garis finish yang sudah di depan mata. He finished the marathon! Selamat punya bukti untuk dibawa pulang! Ribuan orang membawa pulang medali. Di antaranya bahkan ada nenek-nenek dan kakek-kakek yang lebih kuat dari aku si pemuda jompo satu ini. 

Euforia Marathon selesai hari itu. Bukan medali yang aku bawa pulang, tetapi bahan untuk melanjutkan tulisan (coming soon). Kalau tulisan ini selesai, aku akan anggap sebagai buktiku menyelesaikan sesuatu. Selain itu, aku juga mulai lari lagi karena kata Abi, Motions equal Emotions, dan kata Umi harus olahraga biar cantik kayak umi. 

Huft, September selesai. Bulan yang sangat sulit untuk dilewati, tapi ternyata banyak hadiahnya. Dua hariku di Berlin cukup untuk mengisi bateraiku (setengahnya dari ICONIC di Göttingen awal September kemarin). Selain dari para pelari, di Berlin- kota raksasa ini, aku juga bertemu orang-orang keren yang punya banyak harapan hidup. Para Optimists, yang aku kira sudah punah. Orang-orang dengan prinsip dan percaya. Lebih dari pencapaian kece mereka, aku kagum dengan how they reflects their achievements on small acts of kindness. Retta (dan Rasta yang sayangnya nggak ketemu kemarin) duo keren dan manis yang sebenarnya aku ngefans, Durra dan skateboardnya yang udah jadi tourguide padahal bentar lagi mau sidang, Nata yang tiba-tiba ngasih bukunya (aku udah baca, lucu banget, bagus;)), Taqi yang banyak kultum tapi aku amazed sama prinsip dan percayanya, Kak Etna yang random banget aku kenal karena host kamar pelajar, nggak sempet ngobrol banyak tapi aku sekilas lihat meja belajar dengan habit tracker yang mindblowing! pantas aja orang-orang jadi keren dan hebat! Oh iya, tak lupa roomates hostel, strangers random dari US, Leipzig, dan Rusia yang tiba-tiba buka percakapan SKSD dan menumbuhkan kembali percaya antar manusia dan mengikis waspada atau prasangka. Aku suka pertemuan-pertemuan singkat yang tepat waktu. 

Namun hidup tetap berjalan, liburan selesai, dan aku kembali ke kota kecilku. Semoga aku tetap menulis, lari, dan punya ketekunan seperti saat lari dan menulis dalam hidup. Semoga keajaiban "dipertemukan dengan orang-orang baik," terus terjadi setiap kali dibutuhkan. 















Comments

Popular Posts