#36- Studio Terapi Seni



Sudah sebulan ini aku cukup sering mengambil alih sesi terapi seni di sebuah RSJ sendiri. Pasien-pasien yang aku hadapi adalah orang-orang dengan diagnosa F20 seperti skizofrenia, gangguan kecemasan, bipolar, dan beberapa lainnya yang sudah dalam keadaan stabil. 

Terapi ini adalah bagian dari Ergoterapi yang sebenarnya cakupannya lebih luas dari penggunaan media kreatif. Karena tempatku memakai terapi kreatif, ruangan terapi lengkap dengan segala macam bahan kerajinan tangan sederhana, kayu, batu, anyaman, sampai cat segala rupa. Sebenarnya persis studio seni yang disederhanakan tetapi menyediakan segalanya. Sebagai asien yang datang bukan dengan sukarela atau minat bakat seni, pemilihan media adalah proses awal paling penting. 

Mencari tahu media kreatif mana yang cocok adalah hal yang aku paling suka. Bayanganku tentang terapi seni sebelum aku terjun langsung sangatlah berbeda dengan penggunaannya di klinik psikiatri. Sebagai terapi seni klinis, para terapis bekerjasama dengan psikolog, psikiater, dan perawat untuk menyesuaikan bentuk terapi. Setiap pasien yang datang sangatlah berbeda dan terkadang juga datang karena terpaksa. 

Hal paling dasar yang dilakukan di awal adalah mandala. Salah satu media yang menurutku membosankan. Namun saat mereka mengambil pensil warna dan mulai mewarnai dengan menekan pensil terlalu keras sampai berbunyi di setiap goresannya, aku menawarkan media yang bisa melatih motorik halus mereka seperti cat air. Salah satu media lain yang ku suka adalah menghaluskan batu bumi dari kasar hingga halus seperti perhiasan, yang melatih indra raba. 

Akhir-akhir ini aku sedang menyicil nonton Daily Dose of Sunshine dan sekarang sedang ada di episode saat pasien disarankan menulis jurnal dan menghighlight perasaan positif dan negatifnya. Latihan-latihan tersebut juga dilakukan untuk melatih metakognisi pasien. Di luar itu, Ergoterapis juga melakukan Training Metakognitiv yang dilakukan dalam grup. 

Aku sangat menikmati hari-hariku di ruangan ini. Walaupun tidak semua lancar-lancar saja, tetapi aku sangat bisa membayangkan karirku di jalur ini. Bayangkan saja menjadikan melukis dan mendengarkan orang sebagai pekerjaan. Terima kasih juga kepada drakor "It's okay to not be okay," yang sangat sangat sangat relateable (termasuk soal van dan pindah setiap tahun) aku merasa seperti Ko Mun Nyeong, berada di lingkungan ini tetapi tetap menulis buku anak. 

Apapun yang aku lakukan sebagai kerjaan dan apapun tantangan yang aku hadapi sekarang, aku ingin tetap menulis seperti ini. (Menulis adalah terapiku).




Comments

Popular Posts