#29 - Pindah Kampus Lagi?! (Tentang Gagal dan Terlambat)

Mungkin aku menulis ini untuk menghibur diri. Mungkin juga aku menulis ini karena aku harus mengakui, apa yang aku akan tulis ada benarnya. 

Ya, seperti yang aku sudah tulis di judul, aku akan pindah kampus lagi. Berarti, aku akan baru lulus empat tahun lagi. Memikirkannya pun sudah bikin sesak. Dua kata yang muncul saat mengingat situasiku adalah; gagal dan terlambat. 

Seperti yang sebagian orang tahu, aku awalnya melanjutkan studiku di jurusan terapi seni, di sebuah kampus swasta. Karena satu dan lain hal, tahun ini aku harus banting setir lagi. Kali ini sesuatu yang di luar kendaliku. Kalaupun aku mau tinggal saja di tempat yang sama, mungkin aku akan meninggoy sebelum lulus. Itu dramatis, tapi bisa juga benar. 

Lalu, apa selanjutnya? Apa aku gagal? Lu kok kagak lulus-lulus, dah? 

Katanya sih, soal rencana jangan pernah dibagi ke orang. Namun seperti yang sempat aku bagikan juga, aku sempat melakukan praktikum di sebuah RSJ, dimana aku menemukan sebuah bidang yang mirip dengan terapi seni, tapi mencakup lebih luas lagi. Namanya Ergotherapie, atau Occupational Therapy. Dengan banting setir kali ini, aku tidak akan lulus dengan Bachelor of Arts, melainkan Bachelor of Science, alias tidak bisa mengaku anak seni gadungan lagi. Namun sebenarnya fokusku tetap sama. 

Ya emang sih aku gagal. Iya sih, aku terlambat jauh dari orang-orang yang udah sempro. Ya, gimana lagi... It iz what it iz...


Aside from admiting i am a failure, aku sebenarnya tidak menyesali kegagalanku. Aku sudah melewati fase penyesalan dan mengaplikasikan ilmu yang aku dapatkan dari jalan-jalan; kalau nyasar, ya lanjut aja, balik juga kejauhan. Nanti juga nemu jalannya, asal nggak diem di tempat. Asal aku tahu kalau aku nyasar (bukan di tempat yang tepat). 

Oh iya, ada hal lucu kemarin. Seorang teman lama yang tidak pernah ngobrol sama sekali sejak bertahun-tahun tiba-tiba reply tweet bercandaku tentang kemungkinan kawanku mikir aku depresi, dengan tawaran cek tingkat depresi. Sekedar bercanda, aku pun menyapanya lewat DM dan dia memberiku file untuk self scoring. Kebetulan, dia juga anak psikologi. Kebetulan juga, aku memang sedang parah saat itu (untuk pertama kalinya mengalami sesuatu seperti panick attack di tengah jalan, dan terulang beberapa hari kemudian). 

Orang-orang tuh memang dikirim semesta tepat waktu sih, bahkan stranger sekalipun. Lucu banget. Percakapan itu malah seakan jadi a session aku sebagai client dia. Suprisingly, he mentioned the most relatable thing to my concern dan aku sempat ingin nangis saat dia bilang "you're too hard on yourself." Mungkin percakapannya biasa aja, nggak terlalu intens juga, tapi congrats buat Bachar who got his first client buat latihan wkwk. 

Aku masih nggak tahu apakah keputusanku kali ini paling benar dari semua kemungkinan yang ada. Hidup ya belajar, trial and error. Walaupun sebagian bakal mikir, lah errornya banyak amat dah, harusnya pake antivirus! Yah, sepertinya antivirusku memang harus diupgrade; dzikir dan shalat. 

Hal yang paling menyelamatkanku juga adalah keluargaku. Aku tahu aku mengecewakan dan nggak bisa dibanggakan. Namun Umi Abi masih percaya kalau keputusan-keputusanku adalah yang terbaik, walaupun nyatanya aku labil dan sering salah. Aku lega saat aku mengatakan rencanaku, mereka bilang "yang paling memungkinkan aja." Aku lega Shidqie makin keren, sehingga masih ada anak yang bisa dibagikan prestasinya. Aku lega karena aku masih bisa pulang ke rumah dan merasa disayang apa adanya, saat aku sangat takut dengan yang ada di luar rumah. 

Kesimpulannya, it iz what it iz, and i love my family. 






Comments

Popular Posts