# 28 - Obrolan di Bandung


   
Aku selalu suka mengobrol panjang lebar dengan seseorang empat mata, atau sekedar kelompok kecil yang membuat cerita terasa lebih bebas mengalir. Selama ini, momen-momen seperti itu selalu terjadi di Bandung saat hari semakin gelap. Pada saat itu, aku akan mengumpati pengumuman "cafe tutup sebentar lagi." Aku masih betah duduk-duduk bersama cangkir-cangkir kopi kosong itu dan butuh tambahan waktu. Aku menolak pulang. 

Hari ini aku bertemu Sufi, orang pertama yang aku kenal cukup dekat saat masa kuliah singkat di Bandung karena sama-sama punya hubungan dengan dodol dan domba (Garut). Mungkin juga karena dulu sama-sama mengaku ansos. Dia juga satu dari dua orang yang tersisa dari masa hidupku yang tak bisa aku anggap ada; masa-masa jadi anak kampus negeri. 

Pertemuan ini aku rencanakan karena kebetulan aku harus mengambil suatu dokumen di dekat kampus lamaku itu. Sekalian saja, aku mengontak orang yang masih cukup sering bertukar pesan sampai beberapa bulan terakhir ini. Tidak ada ekspektasi apa-apa, tapi aku akan menyesal kalau saja aku melewatkan pertemuan ini. Obrolan kami menetralisir hidupku yang terlalu buru-buru. 

Siang menuju sore kami habiskan di studio keramik milik Sufi. Dulu, aku sempat berpikir kalau orang ini aneh dan tidak punya semangat hidup. Namun, melihat hubungannya dengan tanah liat membuatku kagum pada caranya mendalami satu bidang yang ia sukai. Walaupun ia sering bilang tidak punya tujuan besar, tapi ia punya satu hal yang ditekuni. Ditekuni dengan khusyuk dan detail. Ia lebih tahu langkah selanjutnya daripada tujuan besarnya, kebalikkan dariku. Menurutku, caranya lebih efektif. 

Setelah masing-masing menyelesaikan sebuah cangkir (milik Sufi cangkir normal yang simetris, milikku cangkir berhidung bulat), kami menuju daerah Lembang untuk cari tempat ngopi yang adem. Oh iya, sekitar 40 menit perjalanan itu Sufi banyak yang liatin, karena dia pede aja naik motor pakai helm sepeda. 

Nama cafenya Warung Kopi Gunung. Tempatnya diantara pohon pinus yang estetik. Yang terpenting adalah, cuacanya adem! Kami duduk di pojokan, menghadap ke sebuah jembatan tempat banyak orang foto. Karena tempat itu cukup besar, tak ada yang peduli atau sadar kalau kami terlalu lama duduk di sana. Setidaknya kami pesan dua kopi V6, cireng, dan tempe mendoan rekomendasian Sufi. 

Sebenarnya, kami tidak terlalu sering chat. Aku kira, kami akan canggung atau nggak nyambung saat ketemu. Ternyata, Sufi asyik dan santai. Selain saat ke toilet atau saat Sufi minjem korek ka batur, kami tak berhenti bercerita, loncat dari satu topik ke topik lain tanpa sadar ngalor ngidul jauuh sekali. Mungkin ini efek alam yang nyaman buat ngobrol, tapi menurutku pertemuan ini direncanakan semesta karena aku sedang butuh-butuhnya.

Sufi lebih bawel dariku saat bercerita. Aku pun senang mendengarkannya. Mulai dari bagaimana ia melihat dunia yang buru-buru, dan karakternya yang seakan menjunjung slogan lalu lintas; biar lambat asal selamat! Perlahan tapi pasti! hingga asal mula karakter-karakter pecullliarnya itu. Dia seniman asli. Dia bilang akan punya Studio Keramik Terbesar di Bandung! dan aku percaya itu. Tapi dia juga bilang, itu bukan tujuan akhirnya, karena apa lagi yang harus dituju kalau kita punya tujuan akhir, dan itu sudah tercapai?

Soal hari esok memang penuh takutnya. Ngobrol dengan Sufi, seperti ditenangin dengan cerita. Terima kasih, ya. 









Comments

Popular Posts