#22 - Menepi
Hai.
Di blog terakhir, aku menulis kalau aku mau membuat serial selama di Prancis. Nyatanya, aku baru menulis lagi hari ini, beberapa bulan kemudian.
Sepertinya, untuk beberapa blog kedepan, aku tidak akan mempublikasikannya di sosial media seperti sebelumnya. Akhir-akhir ini, rasanya ada yang hilang dari diri aku, salah satunya adalah keterampilan menulis dan bercerita. Sekarang, aku lebih sering membuka laptop dan bergeming. Rasanya seperti tidak ada cerita yang bisa disampaikan. Untuk menulis satu unggahan ini pun perlu tertunda dari 26 Oktober sampai sekarang, 19 Desember. Bukti kalau aku memang sedang benar-benar tidak bisa menulis.
Katanya, sedih itu pilihan. Bahagia juga dicari. Gimana jadinya, kalau nggak merasakan keduanya? Nggak sedih, nggak bahagia. Apa itu hal normal bagi orang-orang dewasa? Karena ini adalah hal baru bagiku. Benar-benar hampa. Apa aku gagal? Apa yang terjadi padaku? Apa aku lemah? Kenapa hal-hal yang biasanya membuatku senang tak bisa aku lakukan? Kenapa untuk menulis pun, aku benar-benar tak bisa mengambil sebuah pulpen? Apa itu normal bagi orang-orang dewasa?
Apa sebelumnya aku pernah bilang kalau mimpi-mimpiku pudar? Saat aku mengatakan itu, pasti aku sedang sedih karena mimpiku sulit untuk digapai karena satu dan lain hal. Sekarang, lebih parah dari itu. Rasanya aku sudah tak punya mimpi.
Aku tahu bukan hanya aku yang merasakan seperti ini; merasa hidupnya berantakan. Tapi, apa yang orang-orang lakukan untuk bisa menepi setelah tenggelam cukup dalam?
(Blog singkat ini mulai ditulis bulan Oktober, selesai ditulis bulan Desember. Sampai jumpa di blog selanjutnya, kalau sempat.)



Comments
Post a Comment