#19 - Semua Cerita adalah Sebuah Cerita
Aku tidak pernah keren, tapi aku selalu beruntung. Aman adalah hal yang baik dan itulah hidupku sebelum hari ini. Sekarang waktunya aku melakukan semuanya dari awal lagi.
Banyak hal yang sudah aku lewati. Bukan mau sombong, tapi memang ada beberapa hal yang aku sudah lakukan lebih cepat dari kebanyakan orang di lingkunganku. Seperti organisasi dalam dan luar sekolah yang sibuk sana sini atau pengalaman internasional sejak SMP. Sayangya, aku semacam pensiun dini. Beruntungnya, aku sudah punya tujuan lain yang aku akan kejar. Sedihnya, tidak banyak orang yang mendukungku. Anehnya, mereka seakan menilai keputusanku sebagai kesalahan.
Aku menandatangani pengunduran diri dari kampus minggu kemarin. Bagaimana tanggapanmu, kawan? Banyak orang yang bilang aku menyerah duluan. Banyak orang yang bilang kalau aku tidak bersyukur atas kesempatanku menduduki tempat di kampus negeri yang cukup bagus dengan jurusan yang tepat. Banyak orang yang bilang kalau keputusanku bodoh. Ya, sejujurnya, kadang aku berfikiran seperti mereka, tapi hanya di saat-saat tertentu. Semua orang pasti pernah berpikir kalau keputusan yang telah mereka ambil salah, dan seharusnya mereka memilih jalan lain yang mungkin akan lebih baik. Tapi mungkin itu adalah saat-saat orang-orang lupa apa yang mereka benar-benar inginkan.
Aku sudah cuti menulis 100 mimpi di setiap buku diariku. Aku juga sudah cuti membuat perencanaan detil kecuali target-target spesifik dari hal-hal yang sedang aku kerjakan. Kini, aku hanya fokus pada apa yang sedang aku lakukan. Tapi aku tahu apa yang aku inginkan.
Ada seseorang yang bertanya padaku kenapa aku sangat berani dalam mengambil keputusan. Aku jadi ikut bertanya kepada diri sendiri mengapa aku bisa sampai pada tahap ini. Aku menjawab kalau semua mengalir begitu saja dan aku tidak bisa putar balik. Rasanya aku ingin bilang kalau akupun masih sesekali ragu. Tapi aku tidak menyesal, karena aku tahu apa yang aku mau. Menurutku, tujuan adalah hal yang harus kita pegang. Bagaimanapun tantangannya, bagaimanapun jalannya, aku akan tetap menuju satu titik yang sama.
Art Therapy adalah tujuanku. Aku ingin belajar terapi seni dan memiliki studio terapi seni. Selain itu aku juga akan tetap menulis. Menulis bukanlah tujuan utamaku, itu adalah kegiatan yang pasti aku lakukan setiap hari, target harian yang aku lakukan karena aku menyukainya. Hobi yang aku gali dan membuatku puas setelah melakukannya. Aku bisa menulis dimana saja, tapi aku harus belajar terapi seni di luar sana. Aku ingin belajar di luar negeri. Itu adalah keinginanku. Selama apa yang aku inginkan ada di depan, apapun itu yang harus aku lewati, aku ingin tetap kejar.
Mungkin mimpi itu terdengar hebat, bahkan untukku sendiri. Tapi sebelum itu, ada hal-hal yang aku pilih untuk lakukan yang tidak begitu hebat. Seperti keluar kuliah tanpa ada kepastian atas langkah selanjutnya. Seperti harus menunda kuliah cukup lama untuk mengumpulakan biaya di luar negeri, padahal sebenarnya aku bisa melanjutkan studiku dengan aman di Indonesia.
Universitaku memang cukup bagus, dan banyak teman-temanku yang sangat keren disana. Jurusanku memang menyenangkan dan hari ini sedang banyak peluang karir dari sana. Tapi aku punya kesempatan untuk mencoba mengejar apa yang aku mau. Kesempatan untuk mencoba, adalah hal yang sangat berharga. Setidaknya aku tahu, saat aku menjalani kuliah yang sebenarnya aku dapatkan hasil coba-coba sbmptn itu, aku sering menggalau di depan peta dunia dan ada penyesalan karena aku tidak nekad untuk menerobos hal-hal sulit.
Aman adalah hal yang baik, tapi itulah hidupku sebelum hari ini.
Mungkin orang-orang akan menganggapku kurang bersyukur dan tidak memanfaatkan apa yang aku miliki. Tapi sejak tadi sepertinya aku mencantumkan kata-kata seperti "anggapan orang-orang" terhadap diriku. Semua cerita adalah sebuah cerita yang bisa dipetik pelajarannya. Tidak ada yang tahu masa depan dan tidak ada yang berhak meramalkan baik atau buruknya sesuatu secara pasti. Selama tidak merugikan orang-orang, menurutku tidak ada salahnya untuk dicoba.
Aku akan memulai sesuatu yang baru, yang akan menjadi sebuah petualangan. Cerita-cerita baru siap aku tulis. Aku keluar dari zona nyamanku.
Menurutku, semua orang berhak menulis cerita apapun yang ingin mereka hidupi. Bagaimanapun latar belakang mereka, bagaimanapun mimpi mereka. Selama mereka masih bisa mengikuti kata hati, dan memiliki keinginan untuk mengejarnya, menurutku mereka sangat beruntung.
Aku baru menyadari kalau mimpi yang tinggi tidaklah selalu hal besar. Bisa jadi ujungnya besar, tapi semua itu disusun dari kepingan kecil. Asalkan mimpi itu ada, asalkan tahu apa yang ingin dibangun. Membawa batu-batu kecil memang tidak terlihat seperti akan membangun sebuah istana. Namun para pembawa batu yang terlihat santai itu, selama masih mau dan tahu akan membangun istana, tetaplah bisa disebut sebagai para pemimpi.



Comments
Post a Comment