Caraku Menyelamatkan Bumi Mulai dari Diri Sendiri #ClimateChangeStories1
Di Indonesia, cuman ada dua musim; kemarau, dan hujan. Sudah mana tidak ada salju, sekarang dua musim saja sudah tidak menentu waktunya. Kalau kata orang tua, yang ujungnya 'ber' seperti Okto-ber, Novem-ber dan Desem-ber, itu musim hujan. Kalau kata buku ilmu pengetahuan alam, biasanya, angin muson barat bertiup dari Oktober hingga April, dan saat itulah musim penghujan tiba. Tapi sebenarnya, waktunya tidak jelas seperti musim kucing kawin. Yang pasti adalah, setiap harinya, bumi makin panas saja rasanya.
Sejak kelas 1 SD, aku sudah melihat foto-foto beruang kutub kurus kerempeng yang berdiri di sepetak es, alias rumahnya yang meleleh. Memperlihatkan foto-foto itu adalah cara guruku menjelaskan tentang pemanasan global pada masanya. Tapi untuk guru-guru hari ini, mungkin mereka bisa langsung mengajak muridnya keluar rumah untuk melihat asap dari kebakaran hutan, atau perahu karet yang sedang dipakai di depan rumah karena banjir belum juga surut. Tidak perlu keluar rumah pun, bumi yang sakit bisa dirasakan hari ini dari virus yang sedang berkeliing dunia, balik usil pada manusia yang lebih usil.
Bagaimanapun juga, Bumi adalah rumahku, dan rumah kita semua. Jangan buru-buru minggat ke mars lah ya. Bumi masih terlalu indah untuk ditinggalin, tapi juga akan kehilangan keindahannya dalam waktu dekat kalau kita diam saja. Ada banyak cara untuk turut menjaga bumi, mulai dari diri sendiri. Ini caraku untuk melakukan aksi sederhana yang dapat menyelamatkan bumi dari kerusakan.
1. Hemat Energi
Matikan lampu, TV, lepaskan charger dari stop kontak, dan elektronik lain yang tidak terpakai. Mudah, tapi masih sering terlewat. Coba tanya orang tuamu berapa listrik yang dihabiskan dalam satu bulan, berapa harganya, dan coba gali lebih jauh apa dampak kerusakan dari sekedar lupa mematikan TV. Kalian bisa coba nonton film dokumentasi yang berkaitan dengan itu, salah satunya berjudul Sexy Killers yang sempat trending beberapa tahun lalu.
2. Selalu Bawa Tempat Minum dan Tempat Makan Sendiri
Gimana, masih beli minuman kemasan dan makanan pakai sterofoam dan kantong plastik? udah nggak zaman deh! Coba ingat-ingat lagi, berapa kantong keresek atau sterofoam yang biasa kalian gunakan dalam sehari, dan berakhir di tong sampah? Misal, saat beli gorengan di pagi hari, jajan seblak di siang hari, dan beli nasi goreng di malam hari. Atau bulak-balik beli kopi dengan gelas plastik sekali pakai, begitupun antrian orang-orang di belakangmu, yang akan memenuhi tempat sampah dengan hanya gelas kopi setiap harinya. Sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit. Sedikit-sedikit mengurangi, jangan sampai berfikir kalau hal kecil yang kita lakukan itu sia-sia.
3. Memperhatikan Apa yang Kita Makan
Stop makan fastfood, dan jangan makan sup sirip hiu. Aku baru nangis nih setelah nonton Simon Reeves tentang hiu. Bayangin deh, hiu ditangkap cuman buat dipotong siripnya, dan sisanya dibiarin di pantai tergeletak sia-sia? korbannya bukan cuman puluhan, tapi udah ratusan, ribuan, sampai banyak jenis hiu punah!
Oke, disini aku bukan fokus sama hiunya, tapi apapun yang kita makan. Kalau istilahnya mungkin mindful eating. Kita harus sadar dan melek sama apa yang kita konsumsi, karena secara nggak langsung, itu berpengaruh untuk diri kita, dan juga lingkungan.
Contoh lainnya adalah makan daging. Selain kolesterol, kentut sapi itu penyumbang metana paling besar, lebih besar dari kentut mobil. Belum lagi kalau dagingnya dari restoran cepat saji yang pakai banyak kemasan, itu nambah limbah sampah pula. Semakin banyak kita makan daging, semakin banyak pula persediaan sapi yang ngantri masuk restoran, dan semakin banyak sapi kentut.
4. Berkebun
Selain seru dan menyegarkan, kita bisa menanam bahan makanan sendiri. Pernah dengar tentang food miles? Food miles adalah jarak makanan dari tempat produksi, hingga sampai di piring kita. Semakin jauh asal makanan kita, berarti semakin banyak pula emisi yang disumbangkan dari perjalanan makanan tersebut. Dengan berkebun, kita tidak perlu berbelanja sayur dan buah mahal import dari negeri seberang, dan juga mengurangi emisi dari pesawat atau kapal yang biasanya membawa apa yang kita beli di supermarket.
5. Thrifting!
Limbah pakaian adalah salah satu penyumbang limbah terbesar! Banyak lingkungan yang tercemar di sekitar tempat produksi tekstil, salah satunya mencemari air yang kemudian tidak bisa dikonsumsi lagi. Belum lagi, trend fashion yang bergerak begitu cepat menuntut lebih banyak baju yang diproduksi dan juga ditinggalkan begitu saja karena kelewat musim.
Hari gini sih udah nggak zaman gengsi untuk pakai baju bekas, apalagi kualitasnya masih bagus. Selain seru, thrifting atau membeli baju bekas pakai juga murah. Kadang, baju dengan brand bagus bisa ditemukan dengan harga murah meriah loh. Jangan gengsi,
6. Minimalis
Hidup minimalis sudah mulai populer sejar dua laki-laki bernama Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus, juga Marie Kondo, atau beberapa tokoh lainnya mengenalkan gaya hidup baru yang dapat membantu manusia merapikan hidup dengan memiliki barang seminim mungkin. Dengan membiasakan diri hidup minimalis, kita bisa lebih mindful dalam membeli barang yang benar-benar kita perlukan saja. Dengan begitu, kita menghasilkan lebih sedikit sampah, dan juga membantu diri sendiri mengatur hidup yang lebih sederhana.
7. Pakai Sepeda atau Jalan Kaki
Selain karena nggak bisa nyetir dan naik motor, aku adalah penggemar jalan kaki karena banyak hal. Sepeda itu tidak kentut, dan membuat kita sehat karena berolahraga, itu yang utama. Lalu, dengan bersepeda atau jalan kaki, kita bisa menikmati perjalanan dengan lebih santai dan perlahan. Kita bisa menyapa kucing-kucing jalanan, orang-orang yang pergi ke pasar, atau tetangga yang jarang kita sapa. Selain mengurangi polusi, kita juga bisa mendapat banyak cerita yang tak sadar kita lewatkan karena terlalu ngebut pakai motor atau mobil.
8. Pakai Produk Ramah Lingkungan
Sudah banyak produk lokal maupun brand terkenal yang melek lingkungan. Contoh brand besar yang mungkin kalian semua tahu adalah The Body Shop. Mereka membuat gerakan menukar botol kosong dengan poin untuk mengurangi sampah bekas produk mereka. Bahan yang digunakan juga mulai memakai bahan vegan yang ramah lingkungan. Selain itu, masih banyak lagi produk mulai dari makanan, fashion, hingga kosmetik.
9. Manajemen Sampah dan Membuat Kompos
Di rumahku, ada beberapa pot incaran tikus-tikus tiap malam. Pot itu berisi sisa makanan, calon kompos yang akan dikubur di tanah samping rumah. Itu adalah cara keluargaku meminimalisir sampah organik dari rumah. Banyak cara-cara membuat kompos dan mengatur sampah dengan sederhana dan mudah. Mungkin kita bisa mulai dari memisahkan organik dan non organik, lalu kaleng dan kertas. Kita bisa mengubahnya menjadi pupuk kompos, dan mendaur ulang kertas menjadi kertas yang baru. Apalagi hari ini sudah mulai ada tempat penukaran botol plastik dengan uang, itu mungkin bisa memotivasi kita lebih untuk mengatur sampah kita dari rumah.
10. Speak Up and Share!
Cerita tentang kebun yang gagal panen, cerita tentang paus yang punah dan kesepian, cerita tentang asap di jalanan, cerita tentang lapangan yang diambil alih pembangunan, cerita tentang segala keresahan yang membuat orang-orang turut sadar dan beraksi. Aku sendiri pun bukan seseorang yang selalu ramah lingkungan sejak lahir. Aku terbiasa minum air mineral dari botol kemasan, namun aku telah melihat dan menyadari betapa bumi kita butuh bantuan kita bersama.
Siapapun bisa bercerita, dan bersama-sama, menyelamatkan bumi mulai dari diri sendiri!



Comments
Post a Comment