#16 - Tentang Pandemi

 


Kepada orang-orang yang lahir beberapa tahun yang akan datang, jika bumi belum hancur, dan manusia belum dipaksa pindah ke Mars, aku cuman ingin berbagi cerita tentang keadaan hari ini. Mungkin kalian ada tugas mencari artikel tentang pandemi covid-19, dan kalian sudah sering dengar tentang wabah virus yang telah menjeda kehidupan normal di bumi. Kalian bisa baca tulisan ini, walaupun tidak akan membantu banyak. Aku hanya ingin bercerita, mungkin membawa kalian kepada hari dimana ini semua terjadi.

Hari ini, 13 Juli 2021. Tahun kedua, dan semoga tahun terakhir dari kenaikan angka korban virus ini. Banyak kabar duka, yang datang berturut-turut seminggu penuh. Banyak toa masjid yang bisa lebih dari sekali mengumandangkan ‘innalillahi wa innailaihirajiun’ di sela waktu adzan. Aku biasanya mendengar itu tengah malam, saat suasana hening. Suasana itu, malam hari dan toa masjid dengan kabar duka, adalah kombinasi yang tepat untuk membuat merinding. Bukan takut, tapi… Iya takut, tapi bukan takut pocong gentayangan, tapi takut jika suatu saat nama yang akan didengar bukan lagi nama yang asing. 


Takut kehilangan, lebih takut daripada diri sendiri yang mati. Walaupun aku juga ragu apakah aku akan berakhir di surga atau -surga saja, semoga. Virus itu menyebar lebih cepat daripada antrian tabung oksigen atau giliran vaksin gratis. Orang-orang yang tidak percaya covid mulai minta pertolongan donor darah. Rumah sakit penuh, dan orang-orang menjerit di lorong-lorong. Entah karena kehilangan orang yang disayang, ataupun karena mengancam tenaga kesehatan untuk memberi pelayanan yang lebih baik. 


Tapi jangan jadikan film-film wabah zombie menjadi referensi dari pandemi ini. Kami tidak menjadi zombie, membakar rumah-rumah, atau berlari-larian kalang kabut di jalanan. Masih ada tukang bubur kacang lewat tiap pagi, masih ada tukang angkot melewati rute normal, dan tukang tambal ban yang buka. Bedanya, mereka tidak punya pelanggan. Tukang bubur kacang tak ada yang beli, angkot kosong, dan tukan tambal ban disuruh pindah lapak menjadi online. Di saat seperti ini, orang-orang bukan hanya bisa mati karena virus, namun juga karena kelaparan yang lebih mengkhawatirkan dari biasanya. Belum lagi karena kebodohan. Orang-orang bisa mati karena tertular bodoh juga hari ini. 


Sisanya, kami orang-orang yang masih bisa menghidupi diri tanpa keluar rumah, bisa jadi adalah yang beruntung. Ada benarnya jika orang-orang melihatku sebagai seseorang yang terlalu bahagia di masa yang sulit ini. Karena mereka semua -kita semua, melihat satu sama lain melalui layar ponsel saja. Memang akhir-akhir ini banyak sedih-sedih juga di sosial media. 


Terlihat bahagia dan mencoba bahagia, bukan berarti aku tak kesulitan di masa-masa ini. Aku remaja labil yang seharusnya mulai kuliah. Mengambil keputusan-keputusan sulit yang pastinya akan berdampak untuk jangka panjang, dan merombak rencana besar-besaran itu nggak mudah. Kadang ada putus asa, pasrah, kecewa, walaupun ujung-ujungnya harus bersyukur juga. Untungnya, aku hidup di rumah yang membuatku mudah untuk bersyukur. Tak terbayang bagi mereka yang ‘rumahnya’ tidak satu atap, tentunya orang-orang itu lebih kuat dariku karena bisa lebih ekstra menciptakan sedikit bahagia dalam dirinya sendiri.


Mental. Itu masalah yang hadir selanjutnya. Adaptasi menuju cara kerja dunia yang baru, ketakutan terhadap virus, kehilangan, ketidakpastian, dan masih banyak lagi kejadian yang dapat menjadi tragedi. Takut. Itu perasaan kami, kebanyakan orang yang hidup di tahun ini, atau setidaknya itu perasaanku.  Kucingku yang sudah hidup sekitar sepuluh tahun mati beberapa minggu yang lalu. Itu sudah cukup sedih dan aku tak yakin sanggup dengan kehilangan yang lainnya. 


Aku tidak tahu apa yang terjadi beberapa tahun setelah ini. Mungkin virus ini datang karena bumi yang sudah sakit, dan aku tak bisa membayangkan apakah bumi akan semakin rusak atau banyak orang pintar yang baik yang dapat membawa harapan baru tanpa pindah planet terlebih dahulu. 


Tidak ada yang tahu, tapi yang pasti, semua yang hidup akan mati. Tuhanlah tempat kita kembali. Setiap hari, menjadi persiapan kedatangannya; kematian. 


Sehat-sehat selalu, ya. Jaga kesehatan, dan jangan lupa bahagia.


Comments

Popular Posts