#15 - Keluar dari Kotak




“If it’s still in your mind, it’s worth taking risks”
- Paulo Coelho



Aku membaca novel Paulo Coelho yang berjudul  The Alchemist saat aku kelas 1 SMA. Sejak saat itu, The Alchemist menjadi setengah jiwaku bersama The Little Prince karya Anthony. Keduanya tentang perjalanan, dan pencarian. Tentang mimpi, dan diri sendiri. Tentang cinta, dan ambisi, Tentang pergi, dan tempat pulang. Tentang apapun yang bisa ditemukan dari berkelana dan penjelajahan, walau tahu saat itu juga kita harus meninggalkan tempat yang telah membuat kita nyaman dan aman sejak lama menuju hal-hal yang tidak pasti. Bukan hanya meninggalkan tempat, namun juga orang-orang di dalamnya.


Saat rencana-rencana ku gagal satu persatu, aku sempat hampir menyerah. Mimpi ku berkelana jauh, tapi kadang selalu ada hal-hal yang membuat semua itu terasa tidak mungkin. Sempat aku membuat rencana kedua yang lebih aneh namun terdengar sangat putus asa. Aku ingin tinggal di hutan tanpa butuh banyak uang. Tidak apa-apa tidak ada listrik, bahkan mungkin di dalam rumah kemah sekalipun. Yang penting tidak semembosankan hidup biasa. Namun saat aku lebih putus asa lagi, yang terburuk adalah aku memilih untuk menjalani hidup normal; kuliah, lulus, kerja, mati.


Aku bukan mengatakan kalau hidup seperti itu adalah sesuatu yang salah, bahkan mungkin itu kadang tepat untuk beberapa orang. Karena setiap cerita punya perjuangannya masing-masing, semua orang punya jalan dan arti suksenya masing-masing. Namun saja setelah mencoba menjalaninya, aku berkesimpulan bahwa hidup seperti itu bukan untukku. Aku masih ingin mencari cerita yang lebih menantang dan membuat cerita yang lebih menarik dari sekedar aman dan nyaman. 


Saat ini aku sedang duduk di kasur empuk dan dengan status sebagai mahasiswa di salah satu universitas negeri di Bandung. Cukup bagus, tapi biaya UKT membuatku memikirkan ulang tentang ‘seharusnya uang itu bisa dipakai untuk apa’. Untuk tiket pesawat ke Eropa, misalnya.



Di kamarku, terpajang peta dunia berukuran besar. Setiap hendak tidur dan bangun tidur, peta itu ada di depan mataku. Terkadang aku tidak bisa tidur karena melihatnya. Saat lampu kamar sudah dipadamkan, kadang aku membawa lentera kecil dan berjalan di depan peta itu seakan aku penjelajah dunia zaman dulu sebelum teknologi menciptakan GPS atau Google Maps. 


Petaku sudah memiliki banyak coretan. Lingkaran untuk negara yang aku percaya suatu saat aku akan kunjungi, dan garis sana-sini yang menjadi jalur aku menjelajah. Selain peta, aku juga menuliskan 100 tempat impianku dalam jurnal. Aku percaya semua yang ditulis dan dipajang suatu hari akan terwujud. Bayarnya hanya dengan modal percaya.


“If it’s still in your mind, It’s worth taking risk” - Paulo Coelho


Kutipan itu selalu menempel dan berputar di kepalaku. Saat aku mencoba menerima apa yang sedang aku jalan hari ini, kutipan itu yang selalu mengingatkanku tentang mimpi-mimpi lama yang belum sempat tercapai. Kutipan itu seperti menamparku kalau selama ini aku belum cukup berani untuk mengambil resiko yang sebenarnya kunci dari semua awal cerita hebat.


Maka dari itu, hari ini aku memutuskan untuk berani. Entah apa yang akan aku hadapi, tapi aku sudah cukup mengira-ngira dan melihat apa yang akan sebenarnya terjadi jika aku memulai hari ini. Aku bukan mengatakan kalau semua orang harus bepergian jauh dan berhenti sekolah, yang aku coba katakan adalah semua orang punya kesempatan untuk memikirkan kembali apa yang sebenarnya ingin dilakukan di hari esok. 


Comments

Popular Posts