#14 - I Hate School (But I’d Love to Learn Everything about Everything)
I Hate School
(But I’d Love to Learn Everything about Everything)
Mungkin hampir semua orang di kelas ku, atau bahkan banyak siswa di sekolah manapun menunggu hari Jumat dan membenci hari Senin karena sekolah. Tapi aku (pernah) benar-benar benci sekolah. Aku tidak suka sekolah, dan itu aku sadari sejak kelas 1 SMA entah karena bosan atau memang aku tidak cocok sekolah. Seingatku, aku tidak pernah masuk TK setiap hari Sabtu yang sebenarnya bukan hari libur dan teman-temanku pun masuk sekolah. Hampir tidak pernah, lebih tepatnya. Karena satu kali aku pernah masuk sekolah di hari Sabtu dengan baju princess (saat yang lain menggunakan seragam) dan satu hari itu pula teman-temanku entah kenapa memperlakukanku sebagai ratu dan mereka rakyatnya. Lalu setelah itu, aku tidak pernah lagi masuk sekolah di hari Sabtu.
Aku juga ingat absensi ku saat kelas 4 SD, dimana setiap siswa mengisi absen sendiri di tembok yang di hias. Setiap siswa mempunyai kotak kalender tersendiri yang ditandai ceklis jika hadir, dan silang jika tidak hadir. Saat itu alergiku memang sering kambuh dan tidak jarang aku tidak masuk kelas, namun ada rahasia yang baru aku ungkapkan di sini. Aku sengaja masuk sekolah dan tidak masuk sekolah selang satu hari, agar kalender absensiku terlihat lucu -berpola antara ceklis dan silang. Aneh, namun orang tuaku juga tidak mengetahui bahwa kadang aku berpura-pura sakit atau memang tahu namun mengizinkanku beristirahat.
Aku masih seperti orang-orang yang mengharapkan Jumat dan menolak Senin secara normal hingga SMA. Sejak SMP, aku bersekolah di pesantren yang jika dibayangkan kehidupannya seru seperti Hogwarts di dunia Harry Potter (anggap saja begitu). Enam tahun aku mengikuti jam belajar yang tidak wajar hingga lulus, yaitu setelah shalat subuh hingga bel pulang sekolah pukul sembilan malam. Jeda istirahat pukul dua belas hingga tiga sore biasanya digunakan untuk kegiatan eskul dan organisasi. Saat masa ujian datang, pelajaran yang akan diuji totalnya sekitar tiga puluh mata pelajaran.
Selama tiga tahun, aku mengikuti jadwal padat itu walaupun kebanyakan diisi dengan tidur di kelas. Matematika pukul lima subuh sangat tidak masuk ke dalam otak, dan mata tidak bisa diajak kompromi. Atau juga saat pelajaran fisika yang jadwalnya malam hari, hingga pukul sembilan. Bahkan pelajaran siang hari pun bisa jadi semua penghuni kelas tertidur pulas karena malam harinya rapat organisasi sampai pukul tiga pagi. Pemandangan guru yang mengajar mungkin hanya gaya ‘superman’ di atas meja, dan orang-orang yang menopang dagu dengan keadaan sudah bermimpi.
Sampai suatu hari, aku merasa telah menghamburkan waktu karena tidak mengerti apapun bahkan satu dari tiga puluh mata pelajaran. Aku yang sedang memiliki semangat untuk mencari hal-hal baru di luar pagar pesantren, seperti pelatihan dan organisasi yang memiliki peluang besar untuk belajar atau membuat relasi luas sangat dibatasi. Perizinan sangat sulit, hingga suatu saat aku diperintahkan untuk berhenti mengikuti kegiatan diluar pondok. Alasannya adalah karena aku lebih baik fokus pada pembelajaran saja. Bukan perizinan sulit yang membuatku kesal, namun karena pada kenyataannya fokus belajar adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukan di tempat itu. Kalaupun mungkin, tidak untukku. Kalaupun sebenarnya bisa, itu tidak akan menjadi pilihanku.
Dari semua ceritaku di atas, jangan salah sangka. Aku tidak suka sekolah, bukan berarti aku tidak suka belajar. Aku suka belajar. Jika ranking masih layak untuk diumbar sebagai bukti akademik, aku mendapat ranking 1 saat aku selang-seling masuk sekolah kelas 4 SD, dan lima besar menurut hasil UN SMP. Sejak kelas 1 SMA aku mengunjungi open house ITB dan mengambil poster Fakultas Seni Rupa dan desain, lalu memajangnya di kamar. Sejak saat itu pula aku membeli buku SBMPTN dan materi ujian kelas 12 yang aku bahas setiap istirahat siang di kelas yang sepi. Aku meminta hadiah ulang tahun ke 16 dari orang tuaku berupa langganan bimbel online yang aku pakai untuk mengulang semua pelajaran di luar kelas.
Namun dari ceritaku di atas juga, bukan berarti aku menjadi anak rajin saat SMA. Aku suka belajar, aku suka perasaanku saat dibuat pusing rumus di buku persiapan ujian, namun di saat yang sama aku juga bolos kelas hampir setiap hari terutama di pelajaran matematika. Aku biasanya izin ke kamar mandi di awal jam pelajaran dan tidak pernah kembali. Ya, aku oknum mabal jenis itu namun aku tidak pernah mengajak teman atau siapapun karena aku tidak mau jadi setan dan menyeret orang-orang sebagai teman bolosku.
Badanku yang kecil biasanya menyusup lewat pinggir gerbang yang terkunci di belakang sekolah. Dengan cara itu, aku lolos guru piket maupun satpam yang menjaga di gerbang keluar. Tujuanku pergi adalah rooftop di belakang gedung asrama yang menghadap ke sawah luas dan pepohonan rindang, lengkap dengan sungai yang mengalir cukup deras. Jika memejamkan mata dan didengarkan dengan seksama, paduan suara alam akan menjadikan rooftop yang sebenarnya tempat menjemur baju menjadi tempat meditasi yang ajaib.
Di rooftop itu kadang aku hanya memejamkan mata dan menikmati udara segar. Kadang juga aku berbicara pada angin atau burung-burung dan menamai mereka satu persatu. Kadang juga aku membayangkan bahwa alam di hadapanku itu sudah habis dijadikan lahan dan rumah di masa yang akan datang. Saat itu juga, aku seringkali membayangkan padi-padi yang berjajar sebagai peserta konferensi internasional atau penonton TEDx, lalu aku berbicara apapun yang ada di pikiranku. Mulai dari keresahanku tentang sekolah yang menyebalkan, hingga climate change. Kebiasaan ku menghadiri konferensi rooftop dengan padi-padi sudah aku lakukan sejak kelas 2 SMP dan pada burung-burung juga aku meminta untuk mengajakku terbang pergi melihat dunia yang lebih luas dari tempatku itu.
“Kakak mau keluar sekolah” Aku tiba-tiba mengatakan itu pada orang tua ku suatu hari. Sebenarnya aku tidak terlalu serius soal perkataan ku itu, namun jawaban ayahku sangat tidak disangka-sangka.
“Boleh, homeschooling aja. Bikin kurikulum sendiri”
Percakapanku dan orang tuaku itu kemudian membahas apa yang bisa aku lakukan jika aku tidak perlu pergi ke sekolah seperti biasa. Bukan berhenti belajar, tapi malah belajar lebih dari yang sekolah ajarkan. Itu adalah kali pertama aku percaya bahwa sekolah bukan segalanya. Sekolah bukan satu-satunya cara seseorang untuk menjadi hebat.
“Kakak bisa bikin program sendiri ‘one skill one month’”
“Atau belajar langsung yang mau dipelajarin dari ahli nya, orang terkenal. Cari sendiri caranya”
“Atau keluar negri volunteer”
Dan masih banyak lagi tawaran-tawaran menarik. Bahkan dari yang paling sederhana namu tetap menantang seperti one skill one month. Setiap bulannya aku bisa fokus kepada satu tema yang benar-benar aku mau pelajari saja. Misal bulan pertama aku belajar bahasa jerman hingga bisa, Bulan kedua aku belajar matematika hingga paham, bulan ketiga aku belajar astronomi di observatorium secara langsung. Semua kendali ada padaku, dan orang yang aku percaya menjadi mentor nantinya. Guru tetap harus ada, bedanya kini aku yang cari sendiri.
Rencana itu sungguh menggiurkan. Tentunya terdengar lebih baik daripada masuk kelas untuk tiga puluh mata pelajaran dan tidak merasa paham apa-apa. Namun aku bukanlah yang berkuasa terhadap rencana. Entah apa yang menahanku, sehingga hingga aku lulus SMA pun aku masih berada di sekolah lama ku itu. Semua rencana telah gagal, tapi aku lebih senang menyebutnya dengan tertunda.
2020
2020 adalah tahun terakhirku di SMA. Aku yang sudah belajar materi SBMPTN sejak kelas 10 malah goyah dan merancang rencana yang diragukan banyak orang. Sama seperti anak kelas 3 SMA lainnya, aku dihadapkan dengan banyak pertimbangan. Saat orang-orang sudah mulai menghabiskan waktu dengan les atau berduaan dengan buku pelajaran, aku malah sibuk membuat proposal untuk; Gap Year.
Saat itu keputusanku mantap. Aku tidak akan menunda kuliah dan menghabiskan waktu dengan rencana ku yang sempat tertunda. Belajar hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah. Berkelana, volunteer, dan menulis. Proposal itu aku buat untuk diberikan pada orang tua ku. Isinya semua hal yang ingin aku lakukan selama satu tahun. Setiap bulannya satu tema, dan juga satu kota untuk dikunjungi.
Saat semua sudah terasa mantap, ternyata aku diingatkan lagi kalau aku nggak punya kuasa tentang masa depan termasuk semua rencana ku. 2020 datang penuh kejutan, dan pandemi covid-19 memaksa warga dunia untuk diam di rumah. Saat itu aku tidak tahu kapan pandemi itu berakhir, nggak ada yang tahu pasti. Pada saat itu juga, semangatku berguguran, rencanaku kali ini aku nyatakan gagal.
2021
Aku ingin mencoba untuk berencana lagi, mari kita lihat apakah kali ini akan berhasi?



Comments
Post a Comment