#3 - Aku dan Buku


Toko buku dan perpustakaan adalah tempat nongkrong favoritku, terutama perpustakaan provinsi di kota ku. Dimana suatu tempat umum, bisa dipakai untuk sendiri tanpa gangguan. Lebih tepatnya berdua sih, dengan buku atau apapun yang berputar dikepalaku, Dimana tempat umum itu, bisa jadi ruang privasi yang kalau diam seharian dari pagi sampai malam pun gaada yang ngusir atau merasa aneh seperti di cafe. Kalau ketiduran pun, gaakan ada yang peduli.

Sejauh yang aku ingat, aku adalah seorang kutu buku sejak bisa membaca. Terutama awal sd, yang dalam satu hari aku bisa menghabiskan tiga buku KKPK, dan beranjak ke buku-buku lima sekawannya Enid Blyton. Aku juga ingat saat kelas dua SD, guruku membacakan satu halaman novel setiap hari nya. Beberapa hari setelahnya, aku sangat tidak sabar mendengarkan satu halaman saja. Aku meminjamnya dari guruku untuk aku baca, dan novel yang tidak tipis itu habis sebelum waktu pulang sekolah. Dan itu membuatku menolak ajakan bermain sahabatku yang berdampak permusuhan sementara. Aku masih ingat novel itu menceritakan tentang anak perempuan yang selamat dari Tsunami Aceh, dan aku dimusuhi sahabatku sekitar tiga hari.

Saat aku sekolah di Amerika, bahkan guruku mrs. Russo kadang memberikanku tugas spesial dengan imbalan hadiah untuk meresensi novel-novel tebalnya. Karena mungkin melihatku yang suka membaca dan menulis. Kadang aku malas untuk membeli buku, karena sesampainya di rumah pasti sudah selesai habis.

Namun ada yang membuatku berhenti menjadi kutu buku. Saat aku kembali ke Indonesia dan ke sekolah yang sama pula, keadaan sudah berbeda. Sahabat terdekatku mulai terpencar, dan kubu-kubu popular terbentuk. Saat itu, aku tidak pernah jadi diri sendiri untuk bergabung dengan mereka. Dan aku yang sebelumnya tidak kembali hingga beberapa tahun setelahnya.

Mungkin karena mereka semua, dunia ku jadi berbeda. Buku-buku dan beberapa peran manusia. Aku yang sebenarnya lebih suka sendiri, dan sempat memaksakan untuk lebih banyak berbicara dan berbaur. Aku yang berdasar imajinasi -yang selalu percaya putri duyung atau peri, dikenalkan kepada dunia yang dibawa Paulo Coelho, Antouine De Saint Exupery, dan JK Rowling. Atau dunia dari women rolemodel ku; Emma Watson dan Malala. Juga tak lupa dukungan keluargaku. Mereka yang membuatku masih bergerak maju dan bermimpi.

Comments

Popular Posts