#7 - Harapan untuk Mimpi-Mimpi

Kali ini akan agak panjang. Aku mau cerita..

Salah satu hal yang bisa membuat anak-anak mengalahkan orang dewasa adalah; mereka percaya pada hal-hal yang terdengar mustahil. Orang dewasa juga berhenti mendengar anak-anak apalagi percaya pada khayalan dan imajinasinya. Tidak semua orang, karena seperti yang aku pernah tulis sebelumnya, beranjak dewasa pun sebuah pilihan untuk menjadi bagaimana.

Siapa yang dulu pernah bermimpi untuk jadi Dokter? Astronot? Keliling dunia? Bisa terbang? Bisa menghilang? Menjadi super hero? Dan seiring bertambah nya usia, hal-hal itu hilang begitu saja. Hanya dijadikan bahan tawa dan dikenang.

Setiap tahun, aku memiliki beberapa diary yang sering diganti. Di setiap buku nya, pasti terdapat halaman untuk menulis mimpi. Kadang penuh satu halaman. Sekilas, mereka adalah hal-hal yang terdengar mustahil, tapi sebenarnya bisa diperjuangkan. Ini adalah salah satu contoh dari halaman mimpi ku;



Bagaimana? terlalu banyak, kah? terdengar berat, kah? terlihat tidak mungkin, kah?

Bahkan aku yang menuliskannya sempat meragukan diri sendiri. Sempat menyerah dan berpindah haluan kepada hal-hal yang aku tidak pernah rencanakan sebelumnya dan bukan keinginanku yang sebenarnya.

Salah satu mimpi yang selalu tertulis di setiap buku ku adalah 'kuliah di luar negri' dengan beasiswa. Rasanya, mimpi itu benar-benar matang hingga saat itu aku menghadiri pameran pendidikan luar negri yang diadakan oleh semacam lembaga konselor luar negri. Setelah pulang dari event tersebut, aku masih berpegang pada mimpi ku walau mereka bilang dimana-mana, S1 tidak ada beasiswa. Aku masih mencari-cari informasi dan mendapatkan nomer salah satu konselor untuk ke negara yang aku ingin tuju yaitu UK. Saat itu, aku mendapat informasi tentang full scholarship yang aku langsung tanyakan kepada konselor UK itu. Dan dia membalas dengan seperti ini;

 

Aku merasa tidak nyaman karena seakan dia menertawakanku dengan kata lain bahwa aku ga bakal bisa mencapai itu. Setelahnya, dia mengatakan penjelasan yang lebih bisa diterima bahwa hanya orang-orang dari sekolah international yang bisa mendapatkan itu, yang memiliki kesetaraan grading untuk melakulan pendaftaran. Saking inginnya aku melanjutkan studi di Therapeutic Art, University Of Southwales, aku sudah menanyakan kepada perwakilan universitas nya untuk beasiswa yang ternyata hanya sedikit, juga mencari-cari part time job di sekitar lokasinya, yang setelah diperhitungkan tetap tidak mungkin untuk menutupi sekitar 200 juta per tahunnya.

Kalian pernah ga sih, kalian tuh pengen sesuatu yang pengennnnnnn banget sampai ngerasa sesak? lucu sih, tapi ini serius. Tapi, entah kenapa, saat itu aku melepaskan mimpi aku untuk kuliah keluar negri dengan alasan finansial, seakan gaada harapan lagi.

Sejak saat itu, aku memutar arah untuk melanjutkan studi di Indonesia saja. Memikirkan hal-hal yang mungkin dan seadanya. Memikirkan cara bahagia lain yang lebih sederhana, seperti hidup di hutan tanpa uang misalnya. Juga menyingkirkan harapan-harapan rumit yang buat kecewa. Pada saat itu, aku memilih mensyukuri yang ada, seadanya.

Tunggu. Belum selesai. Aku merasa ada yang salah dari pernyataan ku sebelumnya. Memang semua sudah ada jalannya dan perlu disyukuri. Tapi, bukan kah ada juga istilah ikhtiyar? Bukan pasrah begitu saja..

Dua bulan setelah itu, aku lulus SMA. Seorang kakak kelas yang pernah aku kagumi dan menjadi motivasi terbesarku dalam belajar tanpa disangka-sangka mengucapkan selamat atas kelulusanku. Dia menanyakan kemana aku melanjutkan kuliah yang aku jawab dengan pilihan ku di Indonesia. Dia bertanya kenapa tidak di luar negri, padahal aku sudah punya pengalaman di luar dan seterusnya.

Dan entah kebetulan atau apa, sore hari nya, orang tua ku memang menjadwalkan ku untuk berbicara dengan teman abi untuk membicarakan perihal kuliah di luar negri. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya akan dibicarakan,  aku kira hanya perihal informasi tentang beasiswa, tapi tanpa disangka isi pembicaraannya menamparku keras.

Teman abi ku itu menyadarkanku kalau sebenarnya, bukan pilihan lah yang aku tetapkan saat ini. Aku hanya menyerah dan terlalu mendengarkan apa kata orang lain termasuk konselor dan lembaga yang mengatakan hal-hal yang membuatku putus asa. Dia menceritakan cuplikan tentang Michelle Obama, yang mana konselornya pernah bilang kalau dia tidak bisa masuk ke Princeton. Tapi dia membuktikan kalau konselornya salah dan melanjutkan S2 nya di Harvard.

"Gaada mimpi yang ketinggian, yang ada usaha nya terlalu sedikit" Katanya, sangat menampar. Teman abi ku itu lalu memberi beberapa cara yang tidak pernah aku coba untuk mendapatkan kesempatan kuliah di luar negri, yang sangat mungkin untuk dicoba. Aku akan berbagi cerita dan jalannya kalau aku sudah berhasil mendapatkannya ya, hehe. Pada intinya, "If there is a will, there are ways".

Dalam satu hari, aku mendapat pertanyaan dari dua orang yang membuat aku mempertanyakan diri sendiri. Terlepas dari pertemuan online yang direncanakan orang tua ku dengan teman abi itu, entah dikirim dari mana kakak kelas ku itu untuk membicarakan hal yang berkaitan seakan semua itu memang sebuah bantuan untuk kembali menghidupkan harapan. Hari itu benar benar warna warni.


-Katanya yang selalu secara langsung atau pun tidak langsung menjadi motivasiku. Dan kali ini, motivasi ku untuk tetap bermimpi dan menggapainya. Aku seperti dapat kesempatan hidup baru..

Di masa depan, aku sangat ingin menjadi mereka yang membantu anak-anak di penjuru dunia untuk bisa menggapai mimpinya. Karena semua berhak bermimpi dan menghidupinya, dan yang paling penting adalah kata-kata klasik yang maknanya sering kali dianggap sepele atau bohong;

Nothing is Impossible









Comments

Post a Comment

Popular Posts